Blockchain mirip “jin teknologi” yang keluar dari botol puluhan atau ratusan tahun sekali. Setiap jin ini keluar, memperlihatkan solusi yang mengganti hidup orang banyak, sekaligus melahirkan perusahaan jenis baru.
Tahun 1400an jin itu keluar dalam bentuk mesin cetak yang dibawa oleh Gutenberg, mengganti dunia yang ketika itu wawasan cuma dimiliki oleh segelintir orang, menjadi sangat mudah untuk membagi wawasan dalam bentuk buku dan menciptakan semua orang di seluruh dunia lebih pintar.
Tahun 1800an, ketika itu untuk membangun suatu bangunan senantiasa dibutuhkan budak, hingga ditemukannya mesin uap yang menjadi kunci revolusi industri dan melahirkan perusahaan manufaktur.
Tahun 1900an, internet didapatkan, sehingga problem jarak diselesaikan. Dengan internet kita mampu mengantarpesan dan berkomunikasi ke mana saja dan kapan saja dengan segera. Internet juga banyak mengganti komposisi perusahaan terbesar di dunia.
“Digital is the main reason just over half of the companies on the Fortune 500 have disappeared since the year 2000.” (Pierre Nanterme, CEO of Accenture)
Namun dengan adanya internet, ada beberapa dilema yang timbul dan belum teratasi, misalnya :
- Perusahaan middleman di bisnis internet yang mengambil fee terlalu besar dan memiliki “daya tawar” terlalu besar (mis. penguasaan data user).
- Uang digital belum bisa dikatakan “sungguh-sungguh” digital (natively digital) sebab mempunyai duduk perkara “double spending” mampu dicopy berapa kalipun juga seperti halnya file MP3. “duit” dalam hal ini juga bisa disebut aset digital lain yang memiliki nilai, mirip saham, akta tanah, loyalty points, votes, yang mana apabila dikirimkan, maka harus dipastikan aset yang ada di si pengantartelah menyusut.
- Data di internet yang bisa dihack, diubah, atau dikorupsi dengan memberikan sogokan/bribe kepada database admin. Karakter database seperti ini tidak memungkinkan dipakai untuk kolaborasi suatu industri yang mana para stakeholder di dalamnya saling berkompetisi namun mesti saling berkolaborasi.
Jin teknologi timbul lagi dengan memperlihatkan teknologi blockchain dan memecahkan duduk perkara yang muncul di periode internet seperti disebut di atas.
3. Blockchain yakni Inovasi Yang Sangat Fundamental di Level Protocol

“The more foundational a technology is, the more impact it can have. Blockchain technology is not a process improvement technology.” ( William Mougayar. William Mougayar, The Business Blockchain: Promise, Practice, and Application of the Next Internet Technology).
Seperti halnya SMTP adalah protocol yang digunakan untuk mengirimkan email, blockchain ialah protocol untuk menyimpan dan mengantarkan data berguna (misal.uang) melalui internet.
Ya, teknologi blockchain mirip Vexanium blockchain bukanlah suatu penemuan bisnis model, namun teknologi blockchain yaitu penemuan di level protocol yang memungkinkan terciptanya banyak bisnis versi gres.
4. Blockchain Memiliki Mekanisme native untuk Menyimpan dan Mengirimkan Data Berharga
Sebelum teknologi blockchain berkembang, para developer / programmer harus membuat aplikasi dengan tergantung pada para pemilik data (atau state aggregator) seperti social media, search engine, platform ecommerce besar dikarenakan protocol HTTP tidak mampu menyimpan data (HTTP sering disebut stateless protocol). Ketergantungan pada state aggregator ini memiliki dampak aplikasi yang tidak cocok dengan peraturan (atau prosedur profit sharing) dari state aggregator ini mampu dimatikan begitu saja oleh pemilik platform dan menyebabkan kerugian di pihak developer.

Dengan adanya teknologi blockchain, yang mempunyai prosedur native untuk menyimpan dan mengantardata, maka developer tidak lagi tergantung pada platform state aggregator untuk menciptakan aplikasi.
Kemampuan untuk secara mudah mentransfer sebuah value adalah kunci dari perkembangan ekonomi dan tata cara keuangan modern. Setiap kemajuan perihal bagaimana kita lebih efisien dalam mentransfer value memiliki imbas domino kasatmata yang sungguh besar lengan berkuasa.
Manfaat blockchain yang tidak ada di teknologi lainnya
Bagian dari revolusi industri 4.0
Blockchain dan AI (Artificial Intelligence) sering disebut selaku pemimpin terdepan dalam revolusi industri 4.0.
Menurut fcanos.com beberapa karakter revolusi industri ke 4 adalah tidak ada batas geografis, cost saving, tidak ada intermediary, service yang aman, dan programmable money. Karakter ini semua ada pada teknologi blockchain.

Adopsi blockchain yang masih di tahap sungguh awal
Bank Indonesia sedang mengkaji digital rupiah (pastinya enabled by blockchain) dan tahun 2020 kajiannya akan selesai.
Hampir seluruh bank sentral di dunia sedang mempelajari teknologi blockchain. (Baca : Berbagai inisiatif bank sentral dalam blockchain).
Beberapa negara mulai menimbang-nimbang zona pilot blockchain, misalnya Busan di Korea, Batam di Indonesia.
Peluang Ledakan Kebutuhan Programmer Blockchain di Masa Depan
Facebook baru saja (Juni 2019) menerbitkan kriptonya sendiri dengan nama Libracoin dan akan diluncurkan di 2020. Apabila penggunaannya meluas, mungkinkah konglomerasi teknologi yang lain (Google, Amazon, dll) akan meluncurkan project blockchainnya masing-masing yang menjadikan meningkatnya harga programmer blockchain ?

Di tahun 2018 Linkedin melaporkan peningkatan kebutuhan posisi blockchain developer sebanyak 33 kali lipat. Sedangkan portal hired.com melaporkan kenaikan pekerjaan developer blockchain sebanyak 571% (5,7 x lipat)
Dengan meningkatnya adopsi blockchain di berbagai sektor, seperti finansial, public service, otomotif, dan semua industri yang lain, bagaimana kira2 demand terhadap programmer blockchain ?
Lalu Untuk Belajar Blockchain kita harus Mulai darimana ?
Saat ini di Indonesia cuma vexanium satu satu nya protocol blockchain yang menawarkan semua training blockchain berbahasa indonesia secara gratis , anda mampu membaca situs Belajar Blockchain mencar ilmu.vexanium.com , disana terlampir aneka macam contoh teladan dan dasar dasar programmer untuk mesti memulai dari mana , mirip Menginstall Nodes , mengenali jenis jenis konsensus , menulis hello world smart contract dan lain sebagainya
Sumber harus di isi