Foto dari : galihsedayu.wordpress.com
Ridwan Kamil. Tulisan ini diawali dengan perdebatan keras yang terjadi saat tanggal 1 November 2015 aku menciptakan status di Facebook perihal kemacetan di Bandung (lihat disini). Awalnya gak ada apa-apa. Tapi dikala salah satu teman, Kang Rizky, nge-tag akun M. Ridwan Kamil, Walikota Bandung, dan lalu beliau merespon di status saya, semua menjadi berbeda. Sudah hukumnya Facebook, dikala kita di tag, atau nge-tag atau sekedar nge-like atau komen, maka seluruh friend kita (yang aktif) di sosial media itu akan terinformasi. Ketika RK merespon dengan mengisi kolom komen, maka seluruh orang yang ada di friendlist-nya terinformasi. Ditambah lagi dengan banyaknya share, komen dan like disitu. Lengkap telah kesudahannya status saya menjadi trend. Menyebar kemana-mana.

Memahami RK, buat saya bukan hal yang merepotkan. Baca deh semua buku Richard Florida, mulai dari The Rise Of Creative Class, Cities and the Creative Class hingga dengan The Flight of the Creative Class atau Who’s Your City, semua ada disitu. Buku-buku itu melegitimasi RK untuk menjinjing warga urban Bandung ke arah yang lebih terbuka, dinamis, personal dan profesional. Lingkungan itu telah dinikmati lama oleh Bandung saat fakta mengatakan 60% warganya berada di level produktif, pekerja kreatif dan anak muda. RK yakin, dengan komposisi warga yang demikian, arah jangka panjang kemakmuran mampu dicapai dengan pergantian masif ke ekonomi inovatif dengan dorongan teknologi. Akhirnya jadilah desain teknopolis dan smart city.
Sayangnya, pandangan baru Richard Florida dianggap selaku ilham kaum elit. Bahkan, berdasarkan Florida eksistensi gay dan lesbian yaitu salah satu indikator tingginya tingkat ekonomi sebuah kota. Pernyataan ini, pastinya, didebat oleh banyak orang. Walaupun demikian, teori Florida banyak dipakai oleh urban planner di USA. Dan RK ialah urban planner lulusan Berkeley. Praktis-mudahan indikator ini gak digunakan di Bandung..hehehehe
Mendalami apa yang ada di anggapan RK mempunyai arti mengerti rekam jejaknya. Dengan pengalaman zero di politik, otomatis kendaraan popular RK di pilwakot 2013 cuma BCCF. Menjadi pendiri dan ketua, banyak hal yang sudah dikerjakan. Salah satu yang paling fenomenal yaitu pelaksanaan HelarFest. Ini yaitu ekspo kreatif yang dikerjakan pada kala bulan tertentu dengan melibatkan banyak komunitas inovatif di Kota Bandung. Masih banyak lagi yang dilakukannya bareng dengan BCCF. Networking yang terkenal diseluruh dunia, dekat dengan British Council sampai dengan menginisiasikan Bandung sebagai kota inovatif dunia ke UNESCO.
Menjadi walikota mempunyai arti memiliki banyak kesempatan untuk membangun Bandung. Salah satu ucapannya yang aku masih terngiang ialah : kota yang sehat itu bila warganya bermain dan berinteraksi di ruang publik (Ternyata ini juga ada di buku The Rise of the Creative Class-nya Richard Florida, Chapter 8 : The Experiental Life) . RK mewujudkan impian itu dengan merevitalisasi banyak taman-taman kota. Sekarang hampir semua taman menjadi indah dan tematik. Kehebatan itu menjadi tepat alasannya banyak diantara taman-taman ini yang dibangun kembali tidak menggunakan dana APBD. Korporasi dilibatkan. Dana CSR dimanfaatkan. Ini gebrakan yang belum tentu dipunyai oleh walikota lain. Salut.
Dan masih banyak gebrakan lain yang dibawa oleh walikota kesayangan warga Bandung ini. Semua indah. Belum lagi dengan aktifnya RK berinteraksi melalui sosial media. Canda dan guyonannya membuatnya favorit di kalangan anak muda.

Saya yakin kok, kita semua berkontribusi untuk Kota Bandung. Saya tidak akan menyebutkan apa yang telah aku kerjakan. Takut menjadi riya. Tapi iya, saya juga sudah berkontribusi. Inshaa Allah.

Tapi saya tidak mempersalahkan itu. Kalau RK dilantik tahun 2013 final, maka tahun 2015 ini yaitu tahun keduanya. Janjinya di kampanye dahulu adalah akan menuntaskan dilema kemacetan di TAHUN KETIGA. Berarti masih ada satu tahu lagi untuk mengurai macetnya Kota Bandung. Gak yakin? Ini tautan dr Kompas perihal komitmen itu : Janji Kampanye Ridwan Kamil. Mari kita tagih sama-sama nanti di tahun depan.

Untuk saat ini, Bus Bandros bukan penyelesaian untuk peningkatan turis masuk ke Kota Bandung. Malah banyak masalahnya. Ijin belum ada (lihat link), tetapi kemarin-kemarin sudah jalan dengan gagahnya keliling Bandung. Baru saja mengkonsumsi korban mahasiswa kesangkut kabel, terjatuh dan meninggal. Setelah peristiwa baru dievaluasi ijinnya. Pengelolaan diberikan kepada LSM baru yang belum pernah mengorganisir bus sejenis. LSM ini ada yang dibentuk secara tiba-tiba alasannya Bus Bandros tidak mampu diatur oleh Pemkot. Bus ini adalah hibah CSR dari beberapa perusahaan besar yang mesti dikontrol oleh pihak ketiga yang independen.
Perbedaan intonasi, cara jawab dan kecenderungan antikritik yang ditunjukkan oleh RK kian menegaskan justru RK harus dikritik. Jangan salah paham. Maksud saya disini yaitu dikritik dengan sarat kasih sayang. Tidak perlu juga kritik yang menjelekkan atau menjatuhkan.
Ah tetapi sudahlah, selaku seorang teman yang baik, mengkritisi tetap harus tahu batas. Saya memohon maaf terhadap Kang Emil kalau status saya atau pun komen dan artikel ini kurang berkenan. Sudah sewajarnya seorang kawan mengingatkan kawannya lainnya. Terima kasih telah membuat Bandung makin indah (ini juga fakta). Saya percaya betul Kang Emil akan melangkah jauh sebagai seorang pemimpin. Janji saya ialah, di pemilihan apapun, bila ada RK disitu, saya tidak akan berpikir dua kali untuk memilihnya. Semata-mata sebab aku tahu kapasitas ia. Saya harap yang membaca postingan inipun demikian.

Ah, foto selfie mah telah banyak. Barangkali pak Wali perlu piknik. Mungkin ke Brasil lagi, Kang? Nyengir lagi. Piss ahh..#tetott
Sumber mesti di isi
