Pemerintah dari setidaknya tiga negara telah mengakui dengan formal kepada minat mereka dalam menerbitkan obligasi Bitcoin yang berdaulat untuk meningkatkan modal.
Asia Times awalnya melaporkan tren 17 April yang merujuk kepada pernyataan gres-gres ini di Pertemuan Musim Semi antara Bank Dunia (World Bank) dan Dana Moneter Internasional (IMF), yang diadakan di Washington DC.
Saat ini Afghanistan, Tunisia dan Uzbekistan sedang menimbang-nimbang tingkat kemungkinan obligasi Bitcoin, ketiganya terpesona pada peluangdari instrumen ini yang mampu menolong banyak sekali sektor penting dalam ekonomi.
Bagi Afghanistan, obligasi mampu dikaitkan dengan logam, terutama dengan industri litium senilai 3 triliun dolar AS yang dimiliki negara itu sendiri. Meskipun diekspansi secara tetap sebab kelemahan lithium, Afghanistan tetap terkekang dalam persoalannya tentang peminjaman sebab pembatasan internasional.
Jawabannya: Asia Times mengutip gubernur Bank Sentral Afghanistan, Khalil Sediq, yang mengatakan bahwa bahu-membahu solusinya ada pada pemecah dilema cryptocurrency semacam Hyperledger Fabric.
Ini kutipannya, “mampu memberikan jalan masuk ke pasar internasional via instrumen keuangan yang pertama-dari-jenisnya (first-of-its-kind) yang mampu menjadi mungkin dengan adanya platform layanan keuangan teknologi blockchain dari hyperledger.”
Hal kecil serupa yang berhubungan desain itu yaitu berasal dari gubernur bank sentral Tunisia yang gres diberi kuasa, Marouane El Abassi. Abassi, yang diketahui karena sikap progresifnya pada teknologi seperti blockchain, menyampaikan bahwa kelompok kerja yang berdedikasi sedang mempelajari kelayakan obligasi Bitcoin.
Teknologi Bitcoin dan Hyperblogger Blockchain, tegasnya,
“Menawarkan bank sentral sebuah alat efisien demi memerangi pembersihan uang, mengelola pengantaran uang, melawan terorisme lintas batas dan membatasi ekonomi debu-bubuk.”
Sejalan dengan banyak negara lain, Tunisia juga mulai mengetahui gagasan akan perlunya mengeluarkan mata uang digital yang resmi secara nasional.
IMF TETAP WASPADA
Sementara itu bagi Uzbekistan, suatu obigasi Bitcoin dapat berakhir berkat kurun depan kapas yang berjangka, kata Duta Besar Uzbekistan untuk Amerika Serikat Javlon Vakhabov kepada Pertemuan Musim Semi.
Pendekatan-pendekatan tersebut mungkin masih mendapatkan beberapa tinjauan secara khusus dari IMF. Awal bulan ini, direktur pelaksana Christine Lagarde kembali menyinari kewaspadaan terkait aset crypto (cryptoassets), menyampaikan bahwa pengujian yang diawasi akan menjadi keputusan yang bagus untuk langkah pertama.
“Salah satu pendekatan, yang dikerjakan di Hong Kong SAR, Abu Dhabi, dan di daerah lain, ialah dengan mendirikan ‘kotak pasir’ (keselamatan computer) yang mengatur di mana teknologi keuangan gres mampu diuji dalam lingkungan yang diawasi dengan ketat,” beliau menyimpulkannya dalam suatu postingan blog.
“Yang terpenting, kita mesti tetap berpikiran terbuka perihal aset crypto dan teknologi keuangan secara lebih luas, tidak hanya alasannya risiko yang ditimbulkannya, tetapi juga alasannya adalah kesempatanmereka untuk memajukan kehidupan kita.”
Lagarde mempersamakan antara kedatangan awal cryptocurrency dengan teknologi keuangan yang terkait dengan komunikasi telepon dan sambutan pertamanya.
Apa pertimbangan Anda ihwal planning Afghanistan, Tunisia dan Uzbekistan untuk obligasi Bitcoin? Beri tahu kami di kolom komentar!
Sumber harus di isi