Akankah Melejitnya Cryptocurrency Menuntun Ke Arah “De-Dolarisasi” ?

Dollar AS  ialah mata duit yang terkenal di seluruh dunia, dan hari ini dolar AS bangkit selaku mata uang yang paling dominan dalam hal cadangan dunia yang dialokasikan. Status dolar sebagai mata duit global mempunyai arti mata duit ini diterima secara luas dan digemari untuk dapat digunakan dalam jual beli dan transaksi internasional.


Menurut temuan modern oleh Internasional Monetary Fund  (IMF), dolar AS berjumlah 61,82% dari semua cadangan devisa central bank yang diketahui. Prevalensi semacam itu menggarisbawahi status dolar selaku mata duit pilihan dunia dan menyoroti relevansinya pada skala global.



Mata uang cadangan dunia terdekat berikutnya adalah Euro pada 20,24%. Kekuatan ekonomi AS ialah yang mendukung nilai dolar AS, membuatnya mata duit paling berpengaruh, meskipun defisit budget sangat besar.


Tidak seperti unit keuangan lainnya, sejumlah besar USD digunakan di luar Amerika Serikat selaku mata uang dalam transaksi sehari-hari, utamanya di Amerika Latin. Selanjutnya, jangkauan internasional mata uang Dolar As jauh lebih luas ketimbang mata uang lain, yang membuatnya menjadi kekuatan dalam hal transaksi.



Namun,  saata ini dunia didorong oleh teknologi yang terus berkembang dan tingkat interkonektivitas yang terus meningkat, dapatkah posisi dolar AS sebagai mata duit global yang secara umum dikuasai terancam? Selama beberapa dekade terakhir, Bitcoin dan proyek cryptocurrency ambisius lainnya sudah meningkat popularitasnya dalam skala eksponensial. Bisakah mata duit digital mencuri takhta dolar dan memposisikan dirinya selaku mata uang cadangan favorit dunia?



De-dolarisasi mungkin tidak tampak begitu mustahil selama tahun-tahun mendatang.


Perkembangan teknologi blockchain telah membuka jalan bagi cara yang lebih baru, lebih dapat dipercaya di mana duit dan gosip berguna mirip identitas, data langsung dan ownership record dapat disimpan. Blockchain menunjukkan desentralisasi,  serta menawarkan cara yang dapat dipercaya dan permanen untuk mampu merekam informasi.


Blockchain juga menjinjing kendali lebih besar bagi organisasi dan bahkan pemerintah dalam hal melaksanakan transaksi tanpa perlu beroperasi melalui bank sentral, seperti yang biasa terjadi ketika ini. Sementara dolar AS dicetak dan dikendalikan oleh pemerintah Amerika Serikat, cryptocurrency memangkas tingkat kontrol terpusat tersebut.


Sifat desentralisasi dari cryptocurrency berbasis blockchain bermakna bahwa keuangan digital mudah untuk dibeli dan dijual hari ini, dan di kala depan, sistem keuangan seperti itu bahkan mampu melangkah lebih jauh dalam mengambil alih bentuk tradisional bank sentral dan perbankan mirip yang kita lihat hari ini.


Ini ialah jalan panjang menuju de-dolarisasi, tetapi mengingat potensi cryptocurrency dan tingkat keamanan yang diberikan blockchain, kita mampu secepatnya menyaksikan proses mempergunakan keuangan digital selaku mata duit global yang kondusif.



 


Pemerintah dunia bahkan mempunyai kesempatanuntuk memperkenalkan cryptocurrency mereka sendiri sebagai alternatif yang aman untuk dolar AS, yang mampu mempercepat proses de-dolarisasi.


Kelangsungan cryptocurrency selaku pengganti dolar yang kuat juga didorong oleh hadirnya stablecoin, sebuah perumpamaan untuk keuangan digital harga tetap yang harga di peg oleh aset cadangan.


 



Bitcoin mungkin masih berkuasa sejauh menyangkut permainan crypto, namun ada calon-calon kompetitor lain yang mulai mengintip, mirip Libra Facebook yang akan memasuki pasar beberapa bulan mendatang. Selain itu, stablecoin lain seperti Pax, EOSDT dan TMV cenderung mempunyai imbas konkret pada pasar dan menunjukkan banyak potensi untuk diversifikasi terhadap investor.


 


Peningkatan efisiensi 


Cryptocurrency juga mempunyai potensi untuk menawarkan cara yang lebih singkat dalam melakukan bisnis internasional. Saat ini, sebagian besar transaksi internasional dijalankan lewat Lembaga Telekomunikasi Keuangan Antar Bank Seluruh Dunia (SWIFT). Negara-negara anti dolar seperti Rusia dan Cina sudah membuatkan model SWIFT mereka sendiri, mendesak mitra dagang untuk membuang sistem tradisional. Namun, bahkan melalui penggunaan bank, sebuah transaksi mampu membutuhkan waktu lama untuk diproses dan ongkos transaksi dapat relatif tinggi.


Menggunakan cryptocurrency dan menuntaskan transaksi online mempunyai arti transfer membutuhkan beberapa detik untuk diproses dengan biaya transaksi yang sungguh menyusut  berkat kurangnya mediator atau organisasi mediator. Secara finansial, memiliki masalah dengan cryptocurrency mampu lebih berguna bagi semua pihak.


Saat kita memasuki dekade selanjutnya, masuk nalar untuk menginginkan pengenalan cryptocurrency gres yang dikeluarkan oleh pemerintah yang mau secepatnya menantang dominasi dolar AS. Seperti yang sudah kami jelajahi, cryptocurrency menawarkan cara kerja yang lebih cepat dan lebih terdesentralisasi yang dapat menjadi daya tarik bagi pemerintah, pedagang dan warga negara.


Akan namun, pantas dicatat bahwa kurun baru dominasi crypto akan menenteng kurun ketidakpastian yang berkepanjangan. sejauh ini ekonomi dunia sudah mengenali bahwa dolar telah menjadi mata duit yang biasa . USD juga mampu diedarkan dan dipakai selaku bentuk duit tunai.


Cryptocurrency, pastinya, sungguh berbeda dan tidak bersifat fisik. Ya, keuangan digital mempunyai kesempatanuntuk memajukan pengantaran uang bagi bisnis yang bergerak cepat lintas batas. Tetapi setelah krisis ekonomi global, masih harus dilihat seberapa cryptocurrency akan sanggup menerima amanah dalam memberikan kepada kita cahaya di ujung terowongan. Selama kebangkitan blockchain terus mempunyai saat-saat, cuma waktu yang akan membuktikannya.


Sumber : dailyhodl


 



Jumlah Pemegang Bitcoin Lebih Dari 1.000 BTC Telah Melonjak Sejak Awal 2019



 


3 Alasan Dari VanEck Kenapa Harus Memasukkan Bitcoin (BTC) dalam Portofolio Investasi Anda



 


 


 



Sumber harus di isi

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama