
Saat ini, minum kopi telah menjadi gaya hidup bagi sebagian penduduk di Indonesia, utamanya pada generasi milenial dan gen Z. Hal ini dapat dilihat dari banyaknya coffee shop yang bermunculan di seluruh penjuru Indonesia.
Selain itu juga dengan adanya sosial media, bisnis kedai kopi makin mempesona perhatian. Para anak muda suka mengakibatkan kedai kopi sebagai kawasan tongkrongan alasannya adalah berkesan kontemporer, yang hasilnya melahirkan banyak sekali bisnis coffee shop kekinian.
Budaya minum kopi di golongan anak muda menciptakan bisnis coffee shop di Indonesia berkembang begitu pesat. Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian (Kementan), pada tahun 2015/2016 konsumsi kopi di Indonesia meraih sekitar 250.000 ton dan meningkat 10,54% tiap tahunnya.
Pertumbuhan tertinggi terjadi di tahun kemudian 2018/19-2019/20 ialah sebesar 13,9%. Diperkirakan dari tahun 2016-2021, konsumsi kopi berkembang rata-rata sebesar 8,22% per tahun. Pada 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795 ribu ton dengan konsumsi 370 ribu ton, sehingga terjadi surplus 425 ribu ton.

Bisnis Coffee Shop
Di Indonesia, sekitar 95% bikinan kopi dipasok dari pebisnis kopi perkebunan rakyat (smallholders coffee), dan sisanya dari kopi perkebunan besar (estate coffee). Adapun sekitar 81,87% bikinan kopi di Indonesia merupakan jenis robusta dan sisanya 17% ialah kopi arabika. Robusta umumnya berkembang di dataran rendah dengan rasa kopi yang lebih pahit (karena lebih banyak kafein), sedangkan arabika berkembang di dataran tinggi dengan rasa kopi yang lazimnya terdapat rasa acid (asem).
Baca juga: Strategi Ekspansi Kopi Janji Jiwa yang Menarik Diulik
Saat ini, dengan banyak sekali kesempatanyang ditimbulkan dalam bisnis coffee shop menciptakan banyak investor besar bersedia untuk memberikan pendanaan yang cukup besar untuk aneka macam startup bisnis coffee shop di Indonesia.
Menurut riset yang dilakukan oleh Toffin, dari segi bisnis, penjualan produk kopi Ready to Drink (RTD) di Indonesia meningkat tajam dalam 6 tahun terakhir ini. Pada tahun 2013, retail sales volume RTD cuma 50 juta liter, di tahun 2018 menjadi nyaris 120 juta liter.
Fore Coffee sukses meraih dana sebesar Rp 127 miliar dari East Ventures, SMDV, Pavilion Capital, Agaeti Venture Capital, Insignia Venture Partners, dan yang lain. Sedangkan Kopi Kenangan menerima pendanaan sebesar Rp 121,6 miliar dari JWC Venture dan sebesar Rp 282 miliar dari Sequio India.
Secara khusus saya ingin garis bawahi tentang Fore Coffee yang telah sungguh sukses menyilangkan industri kopi dengan ekonomi digital di Indonesia.
Fore menerapkan strategi Online to Offline (O2O) yang menggabungkan kedatangan toko retailnya dengan aplikasi mobile untuk melayani pelanggannya.
Seperti gayung bersambut. Indonesia yang kaya dengan jenis kopinya, memberi kemudahan buat para pebisnis untuk mewujudkan pandangan baru inovatif dalam membangun kedai-kedai kopi kontemporer. Bukan cuma di kalangan usahawan masakan, bahkan artis-artis pun sudah mulai membuka kedai-kedai kopi kontemporer.
Apakah memang bisnis kedai kopi ini sungguh menggiurkan, hingga banyak artis turut membuka bisnis kedai kopi kekinian?
Sebut saja Raffi Ahmad, yang membuka gerai kopi minimalis di Lippo Mall Puri Jakarta. Atau Raline Syah yang membuka kedai kopi “Kisaku” di daerah Kebayoran Baru Jakarta Selatan. Mereka mencoba mengusung desain kekinian dengan mempergunakan produk kopi khas Indonesia.
Perkembangan Industri Coffee Shop di Indonesia
Mungkin sebab saya tinggal di Bandung, aku cuma mencatat paling tidak ada 2 gelombang (wave) di dalam kemajuan industri perkopian di Indonesia, khususnya specialty coffee. Masih ingat, ketika tahun 2006 aku menemukan sebuah kedai kopi kecil di Setrasari Mall di Bandung berjulukan Morning Glory. Coffee shop ini berada di satu ruko dan merelakan space yang semestinya mampu untuk daerah duduk, malah ditaruh roasting machine 12 kg.

Foto: Morning Glory Coffee Setrasari
Saya dan sobat-sobat menjadi sering ngopi disini, sambil kerap kali merasakan aroma anyir kopi yang sedang di-roasting. Waktu itu, ini coffeeshop satu-satunya yang memajang roasting machine di depan. Ownernya, Nael Charis, yang sekarang menjadi sahabat aku, bercerita ketika pertama kali buka, 3 bulan pertama omset yang didapat pada dikala itu hanya 25 ribu sehari. Berat perjuangannya.
Di tahun itu, kedai specialty coffee sukar didapatkan. Konsumen lebih suka dengan kopi sachet yang dijual murah dan bisa disantap kapan saja. Makara buat aku di Bandung, meskipun sebelumnya ada Kopi Aroma atau Kedai Kopi Purnama, tetapi dalam perjalanan industri coffee shop, Morning Glory Coffee mempunyai tugas penting.
My personal opinion nih ya, Starbuck (2002), Excelso (1991) dan Coffee Bean (2001) tidak mampu digolongkan terhadap specialty coffee shop. Walaupun secara biasa mereka berjasa mengembangkan tingkat konsumsi kepada kopi.
Nah, wave pertama specialty coffee ya dimulai 2006 saat Morning Glory Coffee berdiri. Selanjutnya, berbagai yang mendirikan coffee shop dengan banyak sekali macam keunggulannya masing-masing. Termasuk saat wave kedua datang, ya kedai kopi Ready to Drink (RTD) tadi, macam Fore, Janji Jiwa, Tuku, dll.
Berbeda menurut research report dari Toffin dan MIX, waves-nya ada 4 (empat). Ya bebas saja sih 🙂
Gelombang pertama, terjadi saat jenis kopi sachet cuma disediakan oleh kedai kopi tradisional atau warung kopi. Hanya sedikit kedai kopi terbaru yang menawarkan sajian kopi, mirip Olala (1990) dan Excelso (1991). Diawal kehadirannya memasuki pasar Indonesia, Dunkin (1985) lebih diketahui selaku gerai donat dibandingkan kedai kopi. Paling nggak ada 4 merk yang berkuasa dimasa ini: Kapal Api (1927), Kopi ABC (1985), Nescafe (1971) dan Torabika (1977).
Gelombang kedua, timbul saat Starbucks (2002), Segafredo (2002) dan Coffee Bean (2001) nongol di Indonesia. Saya masih inget Starbucks pertama kali buka outlet di Ratu Plaza, Jakarta. Selama berbulan-bulan ketika awal renovasi outletnya, logo Starbucks terpampang terang di pagar proyek outletnya di depan Ratu Plaza.
Saya yang dikala itu cuma selalu mendengar ihwal Starbucks dari sobat-sobat yang bekerja di Singapore, menjadi salah satu orang yang gak sabar buat ngicipin Caramel Macchiato yang melegenda itu. Setelah buka, perluasan cepat dijalankan oleh pemegang lisensi, PT MAP Boga Adiperkasa Tbk, ke seluruh kota besar di Indonesia.
Tahukah anda, di Italia, tempat lahirnya Espresso dan Cappucinno, malah gak ada flora kopi sama sekali?
Gelombang ketiga, di laporan Toffin menyebutkan Tanamera Coffee (2013) selaku tonggaknya. Oiya, sebelumnya di Jakarta juga muncul Anomali yang meramaikan pasar pada tahun 2007. Pelanggan mulai memberikan perhatian khusus pada proses seduhan kopi yang dibentuk oleh kedai kopi. Kehadiran mesin kopi menjadi acuan visual bagi konsumen.
Di gelombang ketiga ini timbul juga J.Co Donut & Coffee (2013) dan Lippo Group dengan Maxx Coffee (2015).
Gelombang keempat terjadi sebab market size tumbuh dengan cepat. Semakin banyak pelanggan kopi yang tumbuh akhir naik daunnya produk kopi RTD ala bar yang diperkenalkan oleh gerai coffee to-go dengan harga yang lebih terjangkau.
Sejujurnya, para pelaku kopi tidak pernah menyangka bahwa tren the forth-wave di industri ini justru akan mengarah terhadap coffee-to-go atau kedai kopi Ready To Drink (RTD) macam Tuku, Fore, Kopi Kenangan, Janji Jiwa, Kulo, dsb. Kopi susu dengan nama-nama abnormal (baca:alay) sekarang merajai dimana-mana. Perpaduan espresso, susu dan gula aren yang kesudahannya sangat terkenal ini tidak pernah diprediksi.
Baca juga: Pasar Online Lokal Indonesia : Diantara Kedai Kopi dan Pemasaran Rasa Penasaran
Menurut saya, ini tidak bisa diprediksi karena hanya terjadi di Indonesia. Perpindahan selera para penikmat kopi sachet ke specialty coffee (artisan coffee) dengan mesin espresso-nya, rupanya menyisihkan lubang besar di tengah.
Bagi diehard fans kopi sachet, beralih ke specialty coffee memiliki arti biaya untuk ngopi akan membumbung tinggi. Nongkrong di coffee shop juga terlalu fancy. Tetapi ternyata, ada sekelompok pasar penikmat kopi pemula yang tidak terakomodir oleh keduanya. Pasar ini terlalu gengsi untuk menikmati kopi sachet, tetapi juga terlalu ‘berat’ untuk menikmati espresso atau cappucinno.
Pasar ini didominasi oleh belum dewasa Gen Z dan Millenials. Mereka ingin menikmati kopi, namun dengan kopi citarasa yang elok. Dikasih catatan dikit, manisnya yang ala Indonesia. Kalau Cappucinno atau Caffe Latte ala Italia itu bagus kopi didapat dari susu yang di-steamed. Ada perbedaan yang signifikan disitu.
Anyway, ada beberapa hal yang berdasarkan aku membuat kopi RTD ala cafe ini menjadi booming, antara lain:
1. Harga yang terjangkau
2. Inovasi dalam resep, varian rasa dan penamaan kopi susu.
3. Pembelian yang gampang dengan aplikasi GoFood atau GrabFood. Pembayaran juga dengan e-money.
4. Pemasaran lewat User Generated Content (UGC) di sosial media yang di-amplify dengan influencer-influencer besar.
5. Ekspansi didorong cepat oleh tata cara franchise yang murah dan gampang.
Jumlah Kedai Kopi di Indonesia
Secara lazim, kemajuan coffeeshop di Indonesia berkembangtajam. Pada tahun 2016, tercatat terdapat 1083 outlets coffeeshop yang tersebar di seluruh Indonesia. Di tahun 2019, jumlahnya meningkat menjadi 2937 outlets. Terdapat peningkatan 300%. Wow!

Dengan jumlah gerai kedai kopi sekurang-kurangnya2.937 di seluruh Indonesia (*Toffin), market size kedai kopi di Indonesia diperkirakan mencapai Rp 4.8 triliun per tahun. Angka ini didapet dari asumsi omset masing-masing gerai meraih 200 cup per hari dan harga kopi per cup Rp. 22.500. Nilai real market size ini bisa lebih besar alasannya angka ini belum tergolong penjualan di warung-warung kopi tradisional dan kedai kopi keliling.
Pertumbuhan konsumsi kopi di Indonesia antara lain didorong oleh tingginya konsumsi kopi golongan muda/pemula kopi, adalah dari generasi Z (10-24 tahun) dan generasi Y (25-39 tahun) yang dikala ini mendominasi demografi masyarakatIndonesia.
Baca juga: Memulai Usaha Barbershop, Apakah Masih Menguntungkan?
Karakter generasi ini salah satunya adalah saling terhubung. Mereka memakai teknologi komunikasi untuk menyanggupi konsumsi mereka. Hal ini ditangkap sebagai peluang oleh para pelaku industri kedai kopi dengan menyuguhkan akomodasi dalam order, pengiriman dan transaksi secara online.
Khusus untuk kemajuan coffee shop yang demikian pesat, barometer baik dari sisi desain maupun pelayanan, menurut aku tetap berada di Bandung dan Jakarta. Setelah tren sempat bergaung desain coffee shop dengan tema industrial, penuh dengan ornamen bata muncul, kayu dan besi cat hitam; di tahun 2020 ini sepertinya tema akan bergeser ke concrete.


Gambar di atas yakni Kilogram Coffee Bandung. Nah, banyak coffee shop di Bandung yang mulai memanfaatkan area outdoor dengan ornamen concrete (beton) ekpos, dipadu dengan besi dan kayu tipis-tipis. Tempat mirip ini rata-rata sangat instagrammable dan hampir saban hari ada sesi foto-foto untuk produk tertentu.
Walaupun demikian, pelanggan kopi tetap menyebabkan rasa kopi sebagai usulanutama dalam memilih kedai kopi. Alasan yang kedua ialah harga yang terjangkau, tempatnya yang nyaman, variasi menu dan promo yang menarik.
Hampir setiap coffee shop baru selalu juga menyajikan minuman yang kontemporer, baik kopi susu dengan gula aren atau dengan suplemen lainnya seperti cookies cream, alpukat, matcha, yogurt, cincau, dll.
Prediksi Bisnis Coffee Shop ke Depan
Kalau anda ingin terjun ke dunia kopi di bab hilir, ada banyak hal yang harus diamati. Selain pergantian selera pelanggan yang sedemikian cepat, namun juga persaingan yang kian ketat.
1. Walaupun RTD Coffee is growing, anyak produk kopi baru yang di-mix dengan bahan-materi gres seperti cendol, gula aren, cincau, dll, tetapi kopi yang bermutu tetap satu hal yang dicari oleh konsumen. Secara durasi, kopi susu klasik juga lebih bertahan. Ada pelanggan tersendiri yang cenderung untuk memilih produk klasik konvensional mirip ini.
2. Produk kopi RTD yang sedang trendmasih akan terus menjadi andalan konsumsi kopi selama bertahun-tahun ke depan. Ekspansi yang sungguh kasar menciptakan branding kedai kopi jenis ini sangat diketahui dimana-mana. Masih akan muncul juga banyak sekali variasi rasa dan gabungan dalam minuman kopi. Market ini masih terbuka sungguh luas untuk diselami.
3. Setelah berbagai kota besar di Indonesia, sekarang saatnya bisnis kopi merambah ke 2nd dan 3rd cities. Kedai kopi mulai bermunculan di kota-kota berpopulasi sedang di Indonesia. Budaya minum kopi non-sachet (baik yang kekinian maupun yang klasik) menggeliat di kota-kota ini. Memang masih mesti menyeleksi dan menentukan produk yang tepat, pada umumnya dipadukan dengan kue setempat, kedai kopi ini ada yang bertahan dan banyak juga yang gagal.
Walaupun dengan produt-mix yang kontemporer, tetapi untuk masuk ke kota berpopulasi sedang atau kecil, strategi harga harus tetap menjadi perhatian utama. Oleh alasannya adalah itu, arus masuk akan dimotori oleh kopi kekinian RTD yang memiliki harga terjangkau. Menarik untuk melihat sejauh mana kopi diterima di penduduk kota sedang.
4. Sebetulnya, jujur saja, beberapa praktisi kopi yang aku ajak diskusi sempat mencemaskan betapa hype industri ini. Tiba-tiba kopi menjadi pola hidup. Ketakutan itu diikuti dengan kecemasan akan terjadi bubble dalam waktu dekat. Industri kopi hilir, dibantu dengan sosial media dan kegiatan digital, menjadi dewasa dalam waktu yang sungguh singkat. Sesaat lagi masuk kurun boomer.
Walaupun kegelisahan itu sungguh berdalih, namun ternyata industri ini bergerak ke arah lainnya. Arah yang cuma ada di Indonesia, bukan di negara lain. Jadi, sekali lagi kopi balik masuk ke tahapan growth, bukan mature. Ini bermakna masih banyak hal yang mau terjadi ke depan. Memang barangkali, revolusinya tidak akan berjalan sejajar dengan harapan praktisi kopi yang mengutamakan mutu, tetapi arah demand dari pasar yang hendak memilih.
—
Ya gimana lagi, dunia memang tidak senantiasa adil untuk penikmat specialty coffee, bila sudah bicara industri, tetap saja mesti ikutin kemauan pasar. Huh.
Sumber harus di isi