Asosiasi Libra terus memperbesar anggota di dalamnya. Konsorsium berbasis di Swiss yang mengawasi pengembangan proyek stablecoin Libra, mengumumkan bahwa terdapat aksesori 3 member gres ialah Temasek, Slow Ventures dan Paradigm, penanam modal industri crypto.
Dante Disparte, vice chairman dan head of policy and communications dari Asosiasi Libra menyatakan bahwa penambahan 3 member baru ke dalam asosiasi menunjukkan kesepakatan kami untuk membangun kalangan organisasi yang bermacam-macam dimana akan berkontribusi untuk pemerintahan, roadmap di bidang teknologi dan kesiapan untuk sistem pembayaran Libra.

Terutama Temasek, salah satu dana kelolaan negara Singapore yang mempunyai portofolio bernilai lebih dari 300 miliar USD akan mempunyai peran unik di asosiasi tersebut menurut pernyataan press yang disampaikan oleh The Block. Dengan berbasis di Singapore, maka Temasek mempunyai posisi yang berlainan dimana akan berperan selaku investor yang fokus di Asia.
Temasek diikuti dengan JP Morgan dan otoritas moneter Singapore menjadi berita utama pada bulan November untuk informasi platform pembayaran berbasis blockchain. Temasek telah berinvestasi di beberapa perusahaan yang menunjukkan jasa keuangan diantaranya ialah Virtu, Standard Chartered dan MasterCard, berdasarkan info yang didapatkan di websitenya.
Proyek Libra yang diusung oleh Facebook dan unit blockchainnya Calibra sudah berkembang pesat semenjak pertama kali menghebohkan dunia aset digital pada animo panas lalu. Di simpulan April, perusahaan mengeluarkan white paper yang diperbaharui dimana rencananya diuraikan salah satunya yaitu untuk meluncurkan serangkaian stablecoin yang didukung oleh mata uang fiat daripada memulai dengan cryptocurrency yang didukung dengan multi-aset sendiri seperti yang semula dijadwalkan.
Baca juga : Apa Itu Libra, Crypto Milik Facebook
Seperti yang sudah disampaikan oleh The Block sebelumnya bersama dengan beberapa catatan perubahan lain dari David Marcus-Facebook ialah kesepakatan atas tekanan regulator untuk proyek tersebut semenjak permulaan animo panas. Namun pastinya tidak mengejutkan bahwa Libra menunjuk Chief Legal Officer dari HSBC untuk menjadi CEO pertamanya. Selain itu, Stuart Levy, mantan Wakil Sekretaris dari Terrorism and Financial Intelligence juga bersiap untuk bergabung dengan asosiasi di ekspresi dominan panas ini.
2019 memang tahun yang merepotkan untuk proyek ini, setidaknya untuk beberapa langkah yang sudah dilakukan. Libra mempesona kemarahan dari regulator global dan anggota parlemen. Selain itu perkumpulan juga mengalami eksodus pemain utama dalam jasa keuangan dan teknologi keuangan.
Visa, Mastercard dan PayPal memakai anggota yang telah meninggalkan Libra. Tahun lalu, Libra mengantisipasi bahwa perkumpulan ini akan berkembang sampai 100 anggota.

Namun tetap saja semenjak permulaan tahun organisasi ini sudah memboyong anggota-anggota yang ternama mirip Shopify, Heifer International, Checkout.com dan broker crypto Tagomi.
Suatu sumber menyebutkan bahwa perekrutan sedang meningkat baik di Calibra maupun Libra yang sampai gres-baru ini beroperasi pada apa yang disebut selaku “kerangka kru”.
Calibra juga sudah memposting lowongan kerja untuk posisi marketing associates and communication managers, product designers, dan risk and compliance officers. Calibra diatur sedemikian rupa untuk membangun infrastruktur yang hendak membantu mempercepat adopsi token Libra. Asosiasi juga sedang mencari beberapa orang untuk mengisi beberapa posisi yang tersedia seperti marketing lead dan juga developer.
Informasi yang lain tentang Blockchain dan Crypto
Kenapa Ekosistem DeFi (Decentralized Finance) Perlu Dikembangkan di Indonesia ?
Sumber harus di isi